Kamis, 13 Juni 2024

Sering Terdampar di Aceh, Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya?

dunia.tempo.co

Bukan sekali dua kali, para warga Rohingya kerap kali terdampar di Aceh. Jumlah pengungsi Rohingya yang mendarat ke Aceh pun bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan. Hal ini menimbulkan tanda tanya, siapa sebenarnya warga Rohingya? dan mengapa mereka kerap berdatangan ke Aceh? Untuk mengetahuinya, mari kita membahasnya!

1.Siapa Sebenarnya Etnis Rohingya?

STR/AFP/GETTY IMAGES

Rohingya adalah kelompok etnis minoritas yang sebagian besar tinggal di negara bagian Rakhine di Myanmar. Etnis Rohingya merupakan kelompok yang secara budaya, bahasa, dan agama berbeda dari mayoritas penduduk Myanmar. Sebagian besar warga Rohingya beragama Islam dan berbicara dalam dialek yang mirip dengan bahasa Bengali.

Etnis Rohingya tinggal di wilayah Rakhine, sebuah daerah yang berbatasan dengan Bangladesh. Namun, pemerintah Myanmar tidak mengakui mereka sebagai salah satu dari 135 kelompok etnis resmi di negara tersebut, sehingga membuat mereka tidak memiliki kewarganegaraan dan hak-hak yang seharusnya mereka miliki.

Sejarah konflik Rohingya dengan pemerintah Myanmar telah lama terjadi. Pada tahun 1982, pemerintah Myanmar mengeluarkan Undang-Undang Kewarganegaraan yang menyebabkan etnis Rohingya kehilangan status kewarganegaraannya. Mereka dianggap sebagai pendatang ilegal meskipun banyak dari mereka telah tinggal di wilayah tersebut secara turun-temurun.

Konflik di Rakhine meningkat pada beberapa tahun terakhir, khususnya pada tahun 2017 ketika serangkaian serangan oleh kelompok militan Rohingya yang disebut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) memicu respons keras dari militer Myanmar. Serangan tersebut mengakibatkan tindakan keras militer yang menyebabkan pembunuhan massal, pemerkosaan, dan pengusiran besar-besaran kepada penduduk Rohingya. Serangan ini membuat ratusan ribu orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, sehingga menciptakan krisis kemanusiaan yang besar.

Apa yang dialami Rohingya telah menyita perhatian dunia. Organisasi hak asasi manusia dan negara-negara lain mengecam tindakan Myanmar dan menuntut perlindungan dan hak asasi bagi Rohingya. Meskipun ada tekanan internasional, namun situasi hak asasi manusia bagi Rohingya tetap rawan dan kompleks, dengan banyaknya pengungsi Rohingya yang masih tinggal di kamp-kamp pengungsian di Bangladesh dan ketidakpastian akan masa depan mereka.

Disamping itu, banyak juga warga Rohingya yang mengungsi ke negara lain, salah satunya Indonesia. Aceh menjadi salah satu tempat berlabuh bagi para pengungsi Rohingya. Berdasarkan laporan dari badan pengungsi PBB (UNHCR), para pengungsi Rohingya tersebut berasal dari penampungan pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh. 

Kenapa Warga Rohingya Sering Terdampar di Aceh?

dunia.tempo.co

Seperti kabar yang baru-baru ini beredar, para pengungsi Rohingya kembali terdampar di Aceh. Ini bukan yang pertama kalinya, sebelum-sebelumnya sudah ada pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh. Warga rohingya yang berlabuh di Aceh pun segera diselamatkan. Namun, hal ini membuat sebagian besar warga Indonesia bertanya-tanya, mengapa para pengungsi rohingya sering terdampar di Aceh.

Iskandar Usman Alfarlaki, Ketua Komisi I DPR Aceh, meminta kepada aparat penegak hukum dan pemerintah untuk melakukan penyelidikan terhadap gelombang kedatangan pengungsi Rohingya ke Aceh yang semakin meningkat. Melakukan penyelidikan bertujuan untuk mencegah Aceh menjadi titik transit bagi pengungsi yang menggunakan perahu.

Untuk sementara, pemerintah memang harus memberikan perlindungan kemanusiaan kepada pengungsi. Meski begitu, penting juga bagi pemerintah dan pihak terkait untuk menyelidiki alasan mengapa pengungsi Rohingya sering kali terdampar di Aceh.

“Apakah murni mereka ini sebagai pencari suaka politik atau mereka hanya menjadikan Aceh sebagai daerah transit saja yang kemudian akan masuk ke Malaysia,” kata Iskandar kepada wartawan, Selasa (27/12/2022).

Menurut Iskandar, pengungsi Rohingya yang tiba di Aceh seringkali melakukan pelarian setelah diberi penampungan. Pelarian ini umumnya terjadi dalam waktu singkat setelah mereka ditempatkan di penampungan.

“Ini menunjukkan bahwa mereka tidak murni sebagai pencari suaka politik kalau melarikan diri, lalu siapa sekarang yang memfasilitasi pelarian mereka dan siapa yang menampung mereka serta kemana mereka melarikan diri, ini juga harus diselidiki dan harus diusut secara tuntas,” jelas Politikus Partai Aceh itu.

“Apakah benar indikasi misalnya terlibat para sindikat human trafficking mereka punya agen di Aceh atau di indonesia kemudian akan dibawa melalui Sumatera Utara dan masuk kembali ke Malaysia dan di Malaysia mencari kerja. Ini juga harus dilakukan proses penyelidikan lebih lanjut,” Lanjutnya.

Dia menggarisbawahi pentingnya melakukan penyelidikan agar Aceh tidak terus-menerus menjadi tujuan transit bagi etnis Rohingya dengan berbagai macam alasan. Menurutnya, pemerintah Aceh tidak mungkin terus menerus menampung warga etnis Rohingya. Hal ini karena masih banyak kondisi ekonomi warga Aceh yang juga membutuhkan perhatian lebih dari pemerintah.

Array

Berita Terkait