Kamis, 13 Juni 2024

Kapal Selam yang Hendak Berwisata ke Bangkai Titanic Hilang di Samudra Atlantik

Pada hari Minggu (18/6), sebuah kapal selam wisata yang hendak menjelajahi reruntuhan kapal Titanic dilaporkan hilang di perairan lepas pantai Kanada, Samudra Atlantik. Di dalam kapal selam tersebut terdapat lima orang, termasuk dua orang miliarder dan CEO dari perusahaan agen perjalanan bernama OceanGate.

Berdasarkan laporan yang ada, kapal selam wisata tersebut dilaporkan hilang setelah melakukan penyelaman selama 1 jam 45 menit. Kapal selam wisata tersebut dilaporkan hilang di lepas pantai tenggara Kanada, Samudra Atlantik.

Kapal selam ini merupakan bagian dari perjalanan selama delapan hari yang diadakan oleh OceanGate Titanic Expeditions. Untuk dapat menjelajahi bangkai kapal bersejarah ini, setiap orang harus membayar biaya sebesar US$250 ribu atau sekitar Rp3,7 miliar.

Perjalanan ini dimulai dari Newfoundland, di mana para pengunjung akan melakukan perjalanan sejauh 400 mil laut ke lokasi bangkai kapal yang terletak sekitar 900 mil (1.450 kilometer) di lepas pantai Cape Cod, Massachusetts.

Lalu, pada hari Minggu, kapal mulai turun ke dalam laut menuju lokasi Titanic. Namun, setelah sekitar 1 jam 45 menit menyelam, kapal kehilangan komunikasi dengan Polar Prince, kapal pendukung yang membawa kapal selam ke tempat tersebut. Pada hari yang sama, tim pencarian segera dikerahkan untuk mencari kapal tersebut.

Sejauh ini, masih belum diketahui apa yang terjadi dengan kapal selam sehingga tidak dapat dilacak. Selain itu, belum ada informasi mengenai seberapa dekat kapal selam berada dengan Titanic pada saat kejadian tersebut.

OceanGate melaporkan bahwa kapal selam yang hilang bernama Titan. Titan memiliki berat 23 ribu pon dan terbuat dari serat karbon serta titanium. Kapal ini dilengkapi dengan fitur keselamatan canggih, termasuk sistem pemantauan kesehatan lambung real-time (RTM). Fitur tersebut dapat menganalisis tekanan dan keutuhan struktur kapal secara langsung. Dengan adanya sistem ini, setiap masalah yang terjadi pada kapal akan memberikan peringatan kepada pilot. Sehingga, pilot mereka memiliki waktu yang cukup untuk naik kembali ke permukaan dengan aman.

Namun, Harry B. Harris Jr., mantan Komandan Komando Indo-Pasifik AS, mengungkapkan fakta bahwa kapal selam tersebut belum muncul secara mandiri hingga saat ini menunjukkan adanya potensi masalah. Selanjutnya, Tim terus melakukan eksplorasi di area pencarian untuk menemukan kapal selam tersebut.

“Pesawat P-3 Kanada mendeteksi kebisingan bawah air di area pencarian. Dengan demikian, operasi ROV dipindahkan untuk mengeksplorasi asal kebisingan,” kata coast guard AS pada Selasa (21/6).

Para pejabat penjaga pantai AS saat ini memperkirakan bahwa kapal selam hanya memiliki oksigen yang tersisa sekitar 40 jam.

 

Array

Berita Terkait