Kamis, 13 Juni 2024

7 Bahaya Mengintai Bagi Pelaku dan Pembeli Baju Thrifting Impor

Thrifting impor menjadi salah satu bisnis ilegal yang dilarang keras oleh Pemerintah. Ada berbagai alasan mengapa Pemerintah melarang thrifting impor di Indonesia, mulai dari alasan kesehatan hingga ekonomi. Sayangnya, masih banyak pelaku dan pembeli baju thrifting Impor yang mengabaikan dampak buruk thrifting impor.

Demi keuntungan besar, para pelaku thrifting impor seakan menutup mata dengan larangan Pemerintah. Mereka tetap saja menjalankan bisnis ilegal ini demi memperkaya diri sendiri, tetapi justru menyengsarakan banyak orang. Tak hanya bagi para pelaku saja, kesadaran juga harus ada di dalam diri masyarakat yang membeli baju thrifting impor. Daripada membeli thrifting impor, ada baiknya beralih ke produk lokal.

Membeli produk lokal merupakan cara yang tepat untuk mendukung perekonomian lokal dan industri fashion dalam negeri. Produk lokal membantu meningkatkan perekonomian dalam negeri. Dengan membeli baju dari produsen lokal, kamu secara langsung mendukung lapangan kerja dan pertumbuhan industri di tanah air.

Bahaya Membeli dan Menjual Baju Thrifting

Images by Pexels

Membiarkan para pelaku bisnis thrifting impor sama halnya dengan membunuh ekonomi negara. Thrifting impor berpotensi merusak industri tekstil di Indonesia, yang pada akhirnya menyebabkan pengangguran. Disamping itu, masih banyak masyarakat yang belum sadar akan bahaya thrifting impor. Agar tidak terjerumus dalam bisnis ilegal ini, pahamilah berbagai bahaya atau dampak buruk yang akan terjadi jika terus membeli dan menjual baju thrifting impor di Indonesia:

1.Menyebabkan Penyakit Kulit

Images by Pexels

Salah satu bahaya membeli dan memakai baju thrifting impor adalah menyebabkan penyakit kulit. Pakaian bekas menjadi tempat yang sangat disukai serangga seperti kutu busuk, kutu kasur, atau tungau. Jika pakaian tidak dicuci dengan baik sebelum digunakan, serangga ini dapat menyebar dan menyebabkan gatal-gatal atau masalah kulit lainnya.

Selain itu, pakaian bekas ini juga dapat menularkan penyakit kulit. Beberapa penyakit kulit menular, seperti eksim atau dermatitis kontak, dapat ditularkan melalui kontak dengan pakaian yang telah digunakan oleh orang lain. Jika pakaian bekas tersebut tidak dijaga kebersihannya, maka resiko tertular penyakit kulit tersebut akan semakin tinggi. Dampak buruk ini sangat berbahaya bagi para pembeli baju thrifting impor.

2.Berdampak Buruk Lingkungan

Images by Pexels

Ketika pakaian bekas diimpor, tidak semua pakaian tersebut akan terjual dan digunakan kembali. Banyak pakaian bekas yang tidak terjual akan berakhir sebagai limbah. Pengolahan limbah tekstil yang besar ini merupakan masalah lingkungan yang signifikan. Limbah tekstil yang tidak terurai dengan baik dapat mencemari tanah dan sumber air di daerah sekitarnya.

Oleh sebab itu, sangat penting untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dari pakaian bekas impor. Mendukung industri pakaian lokal, mendaur ulang pakaian yang sudah tidak terpakai, atau membeli pakaian bekas dari pasar lokal, menjadi alternatif untuk mengurangi dampak buruk thrifting impor.

3.Ancaman Bui dan Denda Besar

Images by Pexels

Pemerintah sudah menetapkan pakaian bekas sebagai barang yang tidak boleh diimpor. Pelaku yang melanggar peraturan tersebut akan dikenakan sanksi pidana maksimal 5 tahun dan atau denda Rp5 miliar. Menurut penuturan Plt Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga (PKTN) Kementerian Perdagangan, Pemerintah telah mengesahkan beberapa peraturan sebagai acuan untuk menghukum importir dan penjual pakaian bekas impor.

“Pertama ada di UU Nomor 7 tahun 2014, pada pasal 111 dan 112 ancaman pidana penjara maksimal lima tahun dan atau denda maksimum Rp5 miliar, dan UU Nomor 8 tahun 1999, ancaman pidana lima tahun dan denda maksimum 2 milyar. Sedangkan pedagang di e-commerce ada di PP Nomor 80 tahun 2019 pasal 35 dan juga di Permendag 50 tahun 2020,” di Kantor Kemenkop UKM, Jakarta pada Kamis (6/4/2023), seperti yang dilansir dari laman ekonomi.bisnis.com

Dalam Undang-Undang (UU) Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan, pasal 111 menyatakan bahwa importir yang memasukkan barang dalam keadaan tidak baru atau barang yang termasuk dalam daftar barang yang dilarang diimpor dapat dikenakan hukuman penjara maksimal 5 tahun dan/atau denda maksimal Rp5 miliar.

Selain itu, berdasarkan UU Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pasal 62 menyebutkan bahwa pelaku usaha yang melanggar ketentuan dalam Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, Pasal 13 ayat (2), Pasal 15, Pasal 17 ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, huruf e, ayat (2), dan Pasal 18 dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 5 tahun atau denda maksimal Rp2 miliar.

4.Merugikan UMKM

Images by Pexels

Pakaian bekas impor seringkali dijual dengan harga yang sangat murah, karena biasanya berasal dari negara-negara dengan tingkat produksi besar seperti Amerika Serikat atau Eropa. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan persaingan dengan pakaian baru yang diproduksi oleh UMKM lokal, yang memiliki biaya produksi yang lebih tinggi.

Dengan tersedianya pakaian bekas impor yang murah dan beragam, konsumen cenderung memilih untuk membeli pakaian bekas daripada produk lokal yang dihasilkan oleh UMKM. Hal ini dapat menyebabkan penurunan permintaan terhadap produk-produk UMKM lokal, mengurangi penjualan mereka, dan berpotensi menghancurkan usaha mereka.

5.Berpotensi Meningkatkan Pengangguran

Images by Pexels

Dalam industri pakaian bekas impor, proses sortir, pemilahan, dan penataan pakaian seringkali dilakukan di luar negeri sebelum dikirim ke Indonesia. Proses ini dapat mengurangi kebutuhan tenaga kerja di tanah air, karena pekerjaan ini telah dilakukan sebelumnya di negara asal pakaian bekas tersebut. Sebagai hasilnya, pekerjaan yang dapat diciptakan di sektor distribusi dan penjualan pakaian bekas impor di Indonesia mungkin tidak sebanyak dalam industri lokal yang memproduksi pakaian baru.

“Ketika kamu thrifting dan kamu beli baju bekas (impor) itu menyengsarakan Indonesia. Kamu sudah membunuh bukan cuma satu dua orang, bukan cuma 1000-2000, tapi ratusan ribu rakyat Indonesia yang kehilangan penghasilannya. Kenapa? Karena begitu banyak pabrik tekstil di Indonesia yang bangkrut karena kamu tidak bertanggung jawab dengan uang kamu.” ujar Bennix melalui YouTube Pribadinya @Bennix.

“Maksudnya apa? Begini, Indonesia ini kan terkenal dengan negara yang butuh lapangan kerja ya, yang orang-orangnya masih banyak yang nganggur. Ketika orang bikin pabrik untuk memproduksi pakaian, kemudian dia mau jual di pasar, dan ternyata di pasar hadir baju-baju yang dari impor bekas harga murah, apa yang terjadi? Orang akan berbondong-bondong beli kesana.” imbuhnya.

Selain industri tekstil langsung, industri-industri terkait seperti produsen kain, benang, aksesoris, dan lainnya juga dapat terpengaruh oleh pengaruh dari industri pakaian bekas impor. Jika permintaan terhadap pakaian baru menurun, maka permintaan terhadap bahan baku dan komponen yang digunakan dalam produksi pakaian baru juga akan menurun. Hal ini dapat berdampak pada pengurangan produksi dan pekerjaan di seluruh rantai pasokan tekstil.

“Indonesia ini tidak terkenal dengan brand-brand yang mendunia ya, tapi kita terkenal sebagai negara produsen Which is industri garmennya, industri pencelupannya, industri benangnya, bahkan industri resletingnya. Ini semua adalah pabrik-pabrik yang membutuhkan banyak tenaga kerja yang bisa menciptakan lapangan kerja. Ketika ada satu supply chain yang bangkrut, itu pasti akan membuat dan mengganggu supply chain lainnya. Ini semua adalah entitas dalam satu kompleks bisnis, yang namanya bisnis tekstil.” ujar Bennix.

6.Merusak Industri Tekstil di Indonesia

Images by Pexels

Pakaian thrifting impor telah menjadi perdebatan kontroversial dalam industri tekstil di Indonesia. Selain menurunkan permintaan terhadap produk pakaian dalam negeri, thrifting impor juga dapat memicu persaingan yang tidak seimbang. Pakaian bekas impor kebanyakan berasal dari negara-negara maju yang memiliki industri tekstil yang sangat maju dan efisien. Pakaian bekas ini sering kali masih dalam kondisi baik dan berasal dari brand terkenal yang diinginkan oleh konsumen. Hal ini membuat persaingan dengan produk pakaian dalam negeri menjadi tidak seimbang. Produsen lokal sulit bersaing dengan harga, kualitas, dan merek pakaian bekas impor yang lebih terkenal.

7.Menghancurkan Ekonomi Negara

Images by Pexels

Pakaian bekas impor seringkali tidak dikenakan tarif atau pajak yang sama dengan pakaian baru yang diproduksi secara lokal. Hal ini dapat mengurangi penerimaan fiskal negara dan mengganggu keadilan dalam persaingan bisnis. Pemerintah menjadi sulit mengumpulkan pendapatan yang seharusnya berasal dari sektor industri tekstil dan pakaian jika banyak konsumen beralih ke pakaian bekas impor.

Tidak hanya persoalan pajak, thrifting dapat menghancurkan ekonomi negara dari beberapa sektor. Hal ini sudah dibuktikan melalui sebuah Jurnal Ekonomi Dunia, yang diteliti dan ditulis oleh Garth Frazer. Berdasarkan penelitiannya pada beberapa negara di Afrika, industri pakaian bekas terbukti dapat menghancurkan perekonomian negara. 

“Sudah ada hasil riset di jurnal ekonomi dunia, yang bikin namanya Garth Frazer. Dia udah menilai bagaimana industri pakaian bekas, dan bisnis-bisnis yang terkait dengan pakaian bekas, termasuk donasi pakaian bekas ke negara-negara di Afrika, ternyata menghancurkan perekonomian negara itu.” ujar Bennix.

“Jadi sudah terbukti di tahun 1980 sampai tahun 2000, sudah di riset program bantuan seperti donasi pakaian bekas ke Afrika menghancurkan 40% produksi dalam negeri mereka menjadi berkurang. Dan yang lebih sadis terjadi 50% pengurangan serapan tenaga kerja yang ada disana, walau sudah lama dicegah, efeknya masih terjadi sampai sekarang” imbuhnya.

Solusi Membeli Baju Branded Murah Tanpa Harus Thrifting Impor

Tiktok Branded by Vita and Shopee Warnamu.com

Seperti yang sudah dibahas di atas, thrifting impor adalah tindakan ilegal dan dilarang keras oleh Pemerintah. Namun, jangan khawatir, karena kamu masih bisa mendapatkan baju branded dengan harga murah tanpa harus thrifting impor. Hal ini bisa kamu lakukan dengan cara membeli pakaian sisa ekspor. Perlu diketahui, thrifting impor dan pakaian sisa ekspor itu beda lho!

Thrifting impor adalah pakaian bekas yang diimpor dari negara lain. Karena sudah pernah digunakan atau dipakai sebelumnya, pakaian bekas ini memiliki tanda-tanda pemakaian seperti noda kecil, robekan, atau keausan. Berbeda dengan thrifting impor yang 100% bekas, pakaian sisa ekspor umumnya masih dalam kondisi baru.

Pakaian sisa ekspor awalnya diproduksi dengan tujuan diekspor ke pasar luar negeri. Namun, ketika ada sisa stok atau kegagalan dalam proses produksi, pakaian tersebut kemudian dijual secara lokal untuk memulihkan sebagian dari investasi yang telah dilakukan. Pakaian sisa ekspor yang tidak memenuhi standar juga bisa diekspor ke negara lain dengan harga yang lebih terjangkau.

“Beli barang sisa ekspor itu jauh lebih bermanfaat, Kenapa? karena pabriknya di Indonesia. Kamu tahu pabrik UNIQLO di mana? Ada di Indonesia, Bro!. Kamu tau pabrik Adidas di mana? Ada di Indonesia. Pabrik H&M ada di mana? Ada di Indonesia. Belilah barang sisa ekspor. Ya mungkin barangnya cacat-cacat dikit segala macam, mungkin benangnya ada keluar, tapi ketika kamu beli itu harganya udah pasti lebih murah.” ujar Bennix.

“Jadi kamu bisa menyalurkan hasrat drifting diskon mu itu. Pada saat yang sama, kamu juga bisa tetap dapat brandnya. Jadi kamu dapat dua-duanya, tapi yang paling penting kamu menjadi pahlawan dengan membeli barang produksi lokal itu. Walaupun dia bekas, walaupun dia barang sisa ekspor, itu sama-sama menghemat duit, dan sama-sama mendukung serapan tenaga kerja, mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan industri tekstil yang ada di Indonesia.” ujar Bennix.

Salah satu toko penyedia pakaian sisa ekspor terbaik adalah  @BrandedByVita di Tiktok dan Warnamu.com di Shopee. Toko online yang satu ini memang khusus menjual pakaian sisa ekspor dari berbagai brand terkenal. Daripada membeli baju branded thrifting impor tapi bekas, lebih baik beli pakaian sisa ekspor tapi baru. Agar tidak tertipu barang palsu, pastikan kamu membeli pakaian sisa ekspor di tempat terpercaya seperti  @BrandedByVita di Tiktok dan Warnamu.com di Shopee yang terjamin baru, berkualitas, dan original. 

Yuk, follow @BrandedByVita di Tiktok dan Warnamu.com di Shopee sekarang juga, dan pilih fashion favoritmu!

Array

Berita Terkait